Ahad, 21 Mac 2010

latar belakang timbulnya ilmu tasawuf

1. Latar Belakang Timbulnya Ilmu Tasauf Dalam Islam Tentang kapan awal munculnya tasawuf, Ibnul Jauzi mengemuka¬kan, yang pasti, istilah sufi muncul sebelum tahun 200H. Ketika pertama kali muncul, banyak orang yang membicarakannya dengan berbagai ungkapan. Alhasil, tasawuf dalam pandangan mereka meru¬pakan latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akherat. Begitulah yang terjadi pada diri orang-orang yang pertama kali memunculkannya. Lalu datang talbis Iblis (tipuan mencampur adukkan yang haq dengan yang batil hingga yang batil dianggap haq) terhadap mereka (orang sufi) dalam berbagai hal. Lalu Iblis memperdayai orang-orang setelah itu daripada pengikut mereka. Setiapkali lewat satu kurun waktu, maka ketamakan Iblis untuk memperdayai mereka semakin menjadi-jadi. Begitu seterusnya hingga mereka yang datang belakangan telah berada dalam talbis Iblis. Talbis Iblis yang pertama kali terhadap mereka adalah mengha¬langi mereka mencari ilmu. Ia menampakkan kepada mereka bahwa maksud ilmu adalah amal. Ketika pelita ilmuyang ada di dekat mereka dipadamkan, mereka pun menjadi linglung dalam kegelapan. Di antara mereka ada yang diperdaya Iblis, bahwa maksud yang harus digapai adalah meninggalkan dunia secara total. Mereka pun menolak hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan bagi badan, mereka menyerupakan harta dengan kalajengking, mereka berlebih-lebihan dalam membebanidiri, bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak mau menelentangkan badannya, terlebih lagi tidur. Sebenarnya tujuan mereka itu bagus. Hanya saja mereka meniti jalan yang tidak benar dan diantara mereka ada yang karena minim¬nya ilmu, lalu berbuat berdasarkan hadits-hadits maudhu` (palsu), sementara dia tidak mengetahuinya. 2. Penamaan Sufi Penamaan shufi tidak ditemukan secara pasti, dari kata apa asalnya. Ada perbedaan-perbedaan pendapat mengenai asal kata shufi ataupun tasawuf. Ibnu Taimiyah menyebutkan sebagian perbe¬daan-perbedaan yang ada sebagai berikut. Dikatakan bahwa lafal shufi itu dinisbatkan (disandarkan) kepada ahli shofah (penghuni lorong dekat masjid Nabi). Ini tidak benar, karena kalau demikian maka pasti disebut shofiy. Ada pula yang berpendapat, shufi itu dinisbatkan kepada shof depan di hadapan Allah. Ini pun salah, karena namanya jadi shofiy juga. Konon ada yang menisbatkan shufi kepada Shufah bin Basyar bin Thanjah, satu kabilah dari Bangsa Arab, mereka bertetangga dengan Makkah dari zaman dahulu kala. Dinisbatkanlah orang-orang ahli ibadah (nassak) kepada mereka. Ini, walaupun sesuai untuk penisbatan dari segi lafal yaitu tepat jadi "shufi" namanya, namun penisbatan ini lemah juga. Karena mereka itu tidak terkenal dan tidak populer bagi kebanyakan ahli ibadah. Dan seandainya ahli ibadah itu dinisbatkan kepada mereka maka pastilah penisba¬tan ini sudah ada pada zaman sahabat dan tabi'in serta para pengikut merekayang pertama. Dan lagi pada umumnya orang-orang yang berbicara mengenai nama shufi itu tidak mengetahui kabilah ini, dan tidak suka kalau dinisbatkan kepada kabilah yang ada di zaman jahiliyah dan tidak ada di zaman Islam. Dan dikatakan --ini terkenal-- bahwa shufi itu dinisbatkan kepada pakaian as-shuf/ bulu domba/ wool. (Majmu' Al-Fatawa oleh Ibnu Taimiyah 11/6 dan lihat 10/510 -20/150, As-Sufiyah `Aqidah wa Ahdaf oleh Laila binti `Abdillah, Darul Wathan, Riyadh, cet I, hal 1410H, hal 10-11). Asal kata shufi dari pakaian shuf (bulu domba) ini dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, karena kenyataan yang ada pada masa Ibnu Taimiyah adalah mereka memakai pakaian kasar (bulu domba), seba¬gai pengakuan untuk zuhud (menahan diri dengan tidak cinta dunia), dan menampakkan kesederhanaan dan kemelaratan hidup di samping menahan diri dari berhubungan dan minta-minta pada orang, dan mencegah diri dari air dingin dan makan daging. Demikian pula mereka meninggalkan nikah. Sehingga perbuatan mereka tidak sesuai dengan zuhud (tidak serakah)yang disyari'atkan. Nabi SAW telah mengingkari orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan mencegah diri dari makan daging atau nikah. seperti Hadits yang telah datang dalam kitab Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Anas bin Malik, ia berkata: "Ada satu kelompok sahabat yang datang ke rumah Nabi saw untuk menanyakan kepada isteri-isteri beliau tentang ibadah beliau. Setelah mereka diberitahu keadaan ibadah beliau, seolah-olah mereka menganggap ibadah itu masih terlalu sedikit. Kemudian mereka berkata-kata satu sama lain, lalu mereka bertanya, di mana posisi kita dibandingkan dengan Rasulullah saw padahal Allah telah mengampuni dosa beliau, baikyang terdahulu maupun yang akan datang? Lalu salah seorang dari mereka berkata: "Saya akan puasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka." Yang kedua menga¬takan: "Saya akan bangun (shalat) malam dan tidak tidur." Yang ketiga berkata: "Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan kawin selama-lamanya." Lalu Rasulullah saw datang kepada mereka seraya bersabda: "Kamukah yang telah berkata begini dan begitu tadi? Ketahui¬lah, demi Allah, akulah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan yang paling bertaqwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan kawin dengan perem¬puan. Maka barangsiapyang membenci sunnahku bukanlah ia dari golonganku." (HR Bukhari dan lainnya). Ibnu Taimiyah dalam menguatkan shuf (bulu domba) sebagai sebab penamaan shufi adalah karena mereka terkenal dengan pakaian shuf (bulu). Itu hanyalah menyebutkan gejala mereka pada masa itu dan sebelumnya, yaitu pakaian shuf untuk menampakkan zuhud. Tetapi ada pendapat lain tentang penamaan itu menunjukkan sebagian pemikiran mereka, yaitu pemikiranyang kembali kepada pemikiran-pemikiran kuno seperti yang disebutkan oleh Al-Biruni Abu Ar-Rahyan yang menisbatkan tasawuf kepada kata "Sofia" Yunani yaitu hikmah (filsafat), mengingat karena saling dekatnya pendapat-pendapat antara pendapat orang-orang shufi dengan para filosof Yunani kuno. (al- Tasawuf al mansya' wal mashadir, oleh Ihsan Ilahi Dhahir, hal 33-34). Tasawuf itu adalah kasus yang lebih berbahaya ketimbang seka¬dar pakaian kasar, bahkan merupakan pemikiran-pemikiran buatan para filosof yang masuk ikut campur dalam Islam padahal sebenar-nya jauh dari Islam, tetapi disampuli dengan cover yang menimbul-kan pengelabuan bahwa tasawuf itu termasuk dalam Islam. (As-Shufiyyah `aqidah wa ahdaf, hal 12). BAB II PEMBAHASAN A.Tarekat – Tarekat Sufi Diantara tarekat –tarekat sufi adalah : 1. Tiijaniyah 2. Qodiriyah 3. Naqsyabandiyah 4. Syadzaliyah 5. Rifa'iyah 6. Dll. Dan ada diantara tarekat-tarekat ini yang sudah bubar,akan tetapi sekarang kita menemukan terekat –tarekat lain yang tidak terlalu terkenal,dengan pengikut yang sangat sedikit sekalai, dimana penyebarannya juga lambat. B. Ucapan –Ucapan Tokoh Kaum Sufi 1. Ibnu Araby, salah satu tokoh utama kaum sufi meyakini bahwa Allah itu adalah makhluq dan makhluq itu adalah Allah. Hal itu diketahui melalui ucapannya : "Maka ia memujiku dan Aku memujiNya, dan Ia menyembahku dan aku menyembahNya" 2. Al-Junaid, mensyaratkan bagi para pemula agar tidak menyibukkan hatinya dengan tiga hal, yaitu : usaha ( bekerja, mencari hadist dan kawin !. C. Pengakuan –Pengakuan Beberapa Tokoh Sufi 1. Ibnu 'Araby berkata tentang bukunya " Alfutuuhatul Al-makkiyah ", bahwa itu adalah tauqiifiy ( sesuatu yang datang dari Allah ). 2. Al-hallaj mengaku bahwa telah turun kepadanya risalah-risalah yang banyak dengan tulisan Allah 'azza wa jalla. D. Buku-Buku Tentang Tasauf 1. Alfutuuhaatul makkiyah, yang dikarang oleh Ibnu 'Araby . 2. Quutul Quluub karangan Abu Tholib Al-Makky. 3. Ath-Tawashin karangan Alhallaj.

Kesimpulan Dari uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Istilah sufi muncul sebelum tahun 200H. Ketika pertama kali muncul, banyak orang yang membicarakannya dengan berbagai ungkapan. Alhasil, tasawuf dalam pandangan mereka meru¬pakan latihan jiwa dan usaha mencegah tabiatdari akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akherat. 2. Asal kata shufi dari pakaian shuf (bulu domba) ini dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, karena kenyataan yang ada pada masa Ibnu Taimiyah adalah mereka memakai pakaian kasar (bulu domba), seba¬gai pengakuan untuk zuhud (menahan diri dengan tidak cinta dunia), dan menampakkan kesederhanaan dan kemelaratan hidup di samping menahan diri dari berhubungan dan minta-minta pada orang, dan mencegah diri dari air dingin dan makan daging. Demikian pula mereka meninggalkan nikah. Sehingga perbuatan mereka tidak sesuai dengan zuhud (tidak serakah) yang disyari'atkan.

Penutup Segala puji bagi Allah yang Maha sempurna yang mengatur segala yang ada yang menghidupkan dan yang mematikan, dengan taufiqNyalah makalah ini bisa terselesaikan , oleh karena itu saya merasa bersyukur sekali atas limpahan rahmat dan taufiqnya kepada saya sehingga makalah ini dapat terselesaikan, meskipun didalamnya masih terdapat kekurangan, tapi, saya berharap dengan tulisan ini saya telah melakukan khidmat terhadap agama Allah pada umumnya dan terhadap tugas saya sebagai mahasiswa pada khususnya, oleh karena itu saya memohon kepada pembaca agar tidak segan-segan mengingatkan saya apabila ternyata didalam makalah ini terdapat kesalahan,kekeliruan, karena saya yakin bahwa tidak ada usaha yang sifatnya sempurna dan bahwa kebenaran itu milik bersama . Saya mengakhiri tulisan ini dengan berdo’a kepada Allah semoga shalawat tetap tercurah atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW , sahabat-sahabat beliau, pengikut-pengikut setia beliau sampai datangnya hari akhirat,amin.

Daftar Pustaka Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf Belitan Iblis.2005 Majmu' Al-Fatawa , Ibnu Taimiyah. As-Sufiyah `Aqidah wa Ahdaf, Laila binti `Abdillah, Darul Wathan, Riyadh, cet I, 1410H

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Catat Ulasan